Assalamualaikum

ustad mau tanya ..
kalo kita mengontrakkan rmh kita kepada orang yg non muslim hukumnya apa

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam wr wb…

Dalam interaksi bermuamalah, ada 2 pertimbangan yang perlu diperhatikan,

Pertama, pertimbangan masalah halal-haram.

Kedua, pertimbangan terkait maslahat

Kita simak lebih dekat,

Pertama, pertimbangan masalah halal-haram.

Transaksi sewa-menyewa dibolehkan, selama ketika akad dipastikan terjadi dua hal,

[1] Barang yang disewakan manfaatnya mubah

Ibnu Qudamah mengatakan,

وجملة ذلك إن من شرط صحة الاجارة أن تكون المنفعة مباحة فان كانت محرمة كالزنا والزمر والنوح والغناء لم يجز الاستئجار لفعله وبه قال مالك والشافعي وأبو حنيفة وصاحباه وأبو ثور

Kesimpulannya bahwa diantara syarat sah sewa-menyewa, sesuatu yang disewakan manfaatnya mubah. Jika manfaatnya haram, seperti zina, alat musik, meratap mayit, atau nyanyian, maka tidak boleh disewakan. Ini adalah pendapat Malik, as-Syafi’i, Abu Haifah, berikut dua muridnya, dan Abu Tsaur. (as-Syarhul al-Kabir, 6/28).

[2] Tidak ada bentuk ta’awun (tolong menolong) dalam dosa dan maksiat secara langsung.

Allah berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan tindakan melampaui batas.” (QS. al-Maidah: 2)

Yang menjadi acuan adalah tujuan penggunaan si penyewa, untuk apa dia sewa rumah itu?

Selama digunakan untuk hal yang mubah, dibolehkan. Dan bukan tanggung jawab si pemilik rumah, jika penyewa melakukan maksiat di rumah itu, seperti minum khamr atau makan babi atau bahkan beribadah di rumah. Karena pemilik menyewakannya untuk ditempati, dan itu perkara mubah, bukan untuk digunakan maksiat.

Semua manusia tidak mungkin bisa lepas dari maksiat, tak terkecuali seorang muslim. Terlebih ahli maksiat. Ketika mereka menyewa rumah kita, bisa dipastikan ada kemungkinan dia berbuat maksiat di rumah itu. Namun dosa penyewa, di luar tanggung jawab pemilik rumah.

As-Sarkhasi mengatakan,

ولا بأس بأن يؤاجر المسلم دارا من الذمي ليسكنها ، فإن شرب فيها الخمر أو عبد فيها الصليب أو أدخل فيها الخنازير لم يلحق المسلم إثم في شيء من ذلك ، لأنه لم يؤاجرها لذلك ، والمعصية في فعل المستأجر ، فلا إثم على رب الدار في ذلك

Seorang muslim boleh menyewakan rumah kepada orang kafir dzimmi untuk tempat tinggal. Jika di rumah itu dia minum khamr, menyembah salib, atau membawa babi, si muslim tidak turut mendapat dosanya sama sekali. Karena dia tidak menyewakan rumah untuk itu. Sementara tindakan maksiat yang dilakukan penyewa, di luar tanggung jawab pemilik rumah. (al-Mabsuth, 16/39)

Jika dalam akad dinyatakan bahwa barang akan digunakan hal yang mubah, kemudian di-salah gunakan oleh penyewa, penyalah-gunaan ini di luar tanggung jawab pemilik rumah.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

إذا استأجر ذمي دارا من مسلم على أنه سيتخذها كنيسة أو حانوتا لبيع الخمر ، فالجمهور (المالكية والشافعية والحنابلة وأصحاب أبي حنيفة) على أن الإجارة فاسدة ، لأنها على معصية . أما إذا استأجر الذمي دارا للسكنى مثلا ، ثم اتخذها كنيسة ، أو معبدا عاما ، فالإجارة انعقدت بلا خلاف . ولمالك الدار ، وللمسلم عامة ، منعه حِسْبة

Jika ada orang kafir menyewa rumah dari muslim untuk dijadikan gereja atau toko jual khamr, menurut jumhur (Malikiyah, Syafiiyah, Hambali, dan muridnya Abu Hanifah) bahwa sewa-menyewa ini fasid (batal). Karena tolong-menolong untuk maksiat. Namun jika orang kafir menyewa rumah untuk tempat tinggal, kemudian dia salah gunakan dengan dijadikan gereja, atau tempat peribadatan umum, sewa-menyewa tetap sah dengan sepakat ulama. Sementara pemiliknya atau kaum muslimin yang lain punya tanggung untuk melarangnya dalam rangka amar makruf nahi munkar. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 1/286)