بِسمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Adab Jual Beli

1. Tidak Menjual Sesuatu yang Haram

Tidak boleh menjual sesuatu yang haram seperti khamr, majalah porno, nomor undian dll. Hasil penjualan barang-barang ini hukumnya haram dan kotor.

2.  Tidak Melakukan Sistem Perdagangan Terlarang

Misalnya menjual sesuatu yang tidak ia miliki. Berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam :

لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

”Jangan engkau menjual sesuatu yang tidak engkau miliki.”
(H.R.Ahmad (III/402), Abu Daud (3503), an-Nasa’I (VII/289), at-Tirmidzi (1232) Ibnu Majah (2187) dari Hakim bin Hizam. Hadits ini terdapat dalam kitab Shahiihul Jaami’ (7206))

Seperti seseorang yang menjual buah-buahan yang belum jelas hasilnya.

3. Tidak Terlalu Banyak Mengambil Untung

Hendaklah mengambil untung secara wajar-wajar saja, kasihanilah orang lain dan jangan hanya berambisi mengumpulkan harta saja, orang yang tidak mengasihani orang lain tidak berhak untuk dikasihani.

4. Tidak Membiasakan Bersumpah Ketika Menjual Dagangan

Janganlah bersumpah untuk sekedar melariskan dagangan atau menutupi kekurangan/cacat dari barang dagangannya tersebut. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

إِيَّاكُمْ وَكَثْرَةَ الْحَلِفِ فِى الْبَيـــْعِ فَـــإِنَّهُ يُنَفِّقُ ثُمَّ يَمْحَقُ

“Janganlah kalian banyak bersumpah ketika berdagang sebab cara seperti itu melariskan dagangan lalu menghilangkan keberkahannya.” Juga termasuk di dalamnya adalah sumpah palsu; seperti ucapan: “Demi Allah, aku membelinya dengan harga sekian.” Atau “Demi Allah aku Cuma mengambil untung sekian.”
(H.R.Muslim (1607) dari Abu Qatadah)

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص ثَلاَثَ مِرَارٍ قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ خَابُوْا وَخَسِرُوْا مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَلْمُسْبِلُ وَالْمَنَانُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Tidak akan dilihat oleh Allah, tidak akan dibersihkan Allah dan untuk mereka siksa yang sangat pedih: seorang yang menjulurkan pakaian hingga melewati mata kaki, orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikan yang telah ia lakukan, dan orang yang menjual barang dagangannya disertai dengan sumpah palsu.”
(HR.Muslim (106) dari Abu Dzar r.a.)

5. Tidak Berbohong Ketika Berdagang

Misalnya menjual barang yang ada cacatnya dan hal itu tidak diberitahukan kepada si pembeli. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada pedagang yang menyembuyikan makanan yang basah, beliau berkata:
”Mengapa engkau tidak meletakkannya di bagian atas agar orang-orang dapat melihatnya. Barang siapa yang melakukan penipuan, maka ia tidak termasuk golongannku.”
(HR. Muslim  (102) dari Abu Huhairah r.a.)

6. Penjual Harus Melebihkan Timbangan

Pedagang harus jujur dalam menimbang dan tidak boleh mengurangi timbangan tersebut, sebagaimana ia suka jika barang yang ia beli diberikan dengan sempurna, maka ia pun wajib memberikan/memenuhi hak-hak orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ ۙ -١-

الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَ  ۖ  -٢-

وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ  ؕ  -٣-

Artinya :
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, [yaitu] orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”
[QS. Al-Muthaffifiin: Ayat 1-3]

Rasulullah SAW bersabda : “Timbanglah dan lebihkan.”
[H.R.Ahmad (IV/352), Abu Daud (3336), an-Nasa’I (724), at-Tirmidzi (1305), dan ia menshahihkannya, Ibnu Majah (2220), ad-Darimi (II/260), Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi dalam al-Kubra (VI/33) dari Suwaid bin Qais]

7. Pemaaf, Mempermudah, dan Lemah Lembut dalam Berjual Beli

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda :

اَدْخَلَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ رَجُلاً كَانَ سَهْلاً مُشْتَرِيًا وَ بَائِعًا وَ قَاضِيًا وَ مُقْتَضِيًا اْلجَ
نَّةَ

“Allah memasukkan ke dalam surga orang yang mudah dalam membeli, menjual, melunasi dan ketika meminta haknya.” [HR. Ahmad (I/58), an-Nasa’I (VII/319), dan Ibnu Majah (2202) dari ‘Utsman, Hadits ini terdapat dalam kitab Shahiihul Jami’ (4378)]

Beliau juga bersabda :

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا اِذَا بَاعَ، وَاِذَا اشْتَرَى وَاِذَا اقْتَضَى

“Semoga Allah merahmati orang yang pemurah ketika menjual, membeli, dan menuntut haknya.”
[HR.Muslim (2564) dari Abu Hurairah r.a]

8. Menjauhkan Sebab-Sebab Munculnya Permusuhan dan Dendam Kesumat.

Misalnya membeli barang yang telah dibeli saudaranya, seperti jual beli jenis najasy dan lain-lain yang diharamkan dalam syari’at Islam. Perdagangan najasy ialah seseorang datang seolah-olah ingin membeli sebuah barang dan iapun menawar barang tersebut. Setelah itu ada yang meninggikan tawaran untuk barang itu agar dilihat oleh calon pembeli sehingga kemudian ia membeli dengan harga yang tinggi di atas harga pasaran. Cara ini banyak terjadi pada yang disebut mazaad atau lelang.

9. Penjual dan Pembeli Boleh Menentukan Pilihan Selama Mereka Belum Berpisah kecuali Jual Beli Khiyaar.

Apabila penjual dan pembeli sudah sepakat untuk barang tertentu dan mereka berpisah di tempat penjualan, maka barang tersebut tidak boleh dikembalikan, kecuali jual beli khiyaar, yakni jual beli yang menetapkan saling rela sebagai syarat sempurnanya jual beli (jika salah seorang ada yang tidak rela, boleh membtalkan jual belinya walaupun sudah berpisah dari tempat penjualan). Atau setelah berpisah diketahui salah seorang dari mereka ada yang merasa dibohongi.

Rasulullah SAW bersabda :

اَلْبَيّعَانِ بِاْلخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا. فَاِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا. وَ اِنْ كَذَبَا وَ كَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Jual beli masih diberi pilihan (untuk meneruskan atau membatalkan) selama mereka belum berpisah. Apabila mereka berdua jujur dan memperjelas jual belinya, maka jual-beli mereka akan diberkahi. Namun, apabila mereka berdua menyembunyikan sesuatu dalam jual belinya dan berbohong, maka keberkahan tersebut dihapuskan.”
[HR.Bukhari (2079,2082, 2108) dan Muslim (1532) dari hakim bin Hizam]

10. Tidak Boleh Menimbun atau Memonopoli Barang Dagangan Tertentu

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam “Melarang” perbuatan ini dan bersabda:

لاَ يَحْتَكِرُ إِلاَّ خَاطِئٌ

“Tidaklah seseorang menimbun barang, melainkan pelaku maksiat.”
[HR.Muslim (1605) dari Ma’mar bin ‘Abdullah r.a.]

Dengan berprinsip pada 10 adab jual-beli ini, insyaAllah usaha kita adalah usaha yang halal dan mendapat keberkahan, Aamiin.

Sumber :
Ensiklopedia Adab Islam Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, Jilid I hal.215-222, ‘Abdul ‘Azis bin Fathi as-Sayyid Nada, Penerbit: Pustaka Imam Syafi’i – telah diringkas.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ