#HIJRAHKU, Jika dikatakan sedari awal bahwa hidupku sebelum hijrah itu lurus-lurus saja, tentunya cerita ini tidak akan menjadi menarik.

Karena sebenarnya, aku datang dari keluarga yang cukup beragama, di didik untuk menjalankan shalat 5 waktu.. dan alhamdulillah aku jalankan dengan ikhlas walaupun shalat subuh paling susah dikerjakan hehehe, tapi shalat yang lain biasanya tidak ketinggalan.

Zakat, sedekah, umroh, shaum, pun semuanya aku kerjakan. Sekolah pun mulus mulus saja, tidak pernah tinggal kelas, aku pernah bersekolah di sekolah islam, jadi bisa mengaji, sahabat-sahabat pun pada dasarnya anak baik, yaa ada lah yang bandel-bandel dikit.

Pergaulan pun normal-normal saja, paling ke mall, makan, nongkrong rumah teman, atau kalau mau ke club aku masih sempatkan diri buat solat dulu, walaupun nantinya minum-minum juga hahaha, itupun bukan untuk mengejar mabuk, hanya sekedar menjadi social drinker saja.

Aku tidak pernah pakai narkoba, nyoba pun ga pernah, (karena aku takut mati OD hahahaha) jadi kalaupun ada bandelnya, ya ga parah parah amat. Tidak sampai jauh dari tuhan.

Aku tidak pernah mengalami keterpurukan hidup, yang sampai membuat putus asa. Aku pun berhasil “menjaga diri” sampai pernikahan.

Terdengar seperti tidak ada masalah kan?

Tapiii.. justru disitu masalahnya!

Cerita hijrah yang biasa kita dengar adalah cerita epic yang menghantarkan si pencerita sampai ke titik terendah hidupnya, sehingga ia tidak bisa ke titik yang lebih rendah dari itu.

Dengan Hidayah, si pencerita kembali merangkak ke atas sampai ke titik hijrah. dimana ia berhasil membaca pertanda yang diberikan oleh Allah, dan ia pun ikhlas membawa dirinya ke tempat yang lebih baik.

Tapi itu tidak terjadi pada saya!

Ini sisi menariknya…

Dalam kasus “pola hidup seimbang -versi aku” semua rasanya baik-baik saja, memang punya sisi bandel, tapi bandelnya pun “Bisa dimaklumi” Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merasa nyaman dalam pola hidup

“Golongan Tengah” seperti saya akan mendapatkan hidayah?

{(ibadah jalan, maksiat juga jalan (QS Fathir/35:32)}

Karena tidak mudah bagi kami untuk membaca sinyal-sinyal atau tanda-tanda hidayah dari Allah SWT, Sebab kita merasa “hidup kita baik-baik saja!”

Dan sedihnya, ternyata banyak orang yang berada di posisi seperti aku, orang yang merasa hidupnya aman, cukup dengan berakhlak baik, merasa ilmu agama-nya sempurna karena sudah didapatkan dr kecil (Padahal masih banyaaakk loh ilmu yg blm kita tau) , dermawan, jujur, ga makan babi, ah pokoknya yang termasuk kategori ‘anak baik-baik’ deh…

Tapi tidak kembali pada Alquran dan hadist (Benar-benar menjalankan perintah Allah, & menjauhi larangannya)

Padahal, ibadah itu memperbaiki akhlak, kalo kita beribadah dengan benar, insya allah akhlak kita akan lebih baik

Jadi dulu mikirnya kalaupun sampai dihisab di akhirat, hukumannya ga akan berat-berat amat laah karena masih ada ibadahnya juga kan (Aduuhhh sekarang, begitu tau ilmunya, ya Allah serem bangeeeetttt! Ternyata masih jauh perjalanan saya menuju Jannah).

Sempat juga kepikiran..

Untuk apa saya shalat, puasa, zakat, menjalankan perintah agama, tapi masih mencampur ibadah dengan maksiat, harusnya sebagai muslimah saya wajib pakai hijab kan?

Sebetulnya sudah lama ada niat di dalam hati ingin berhijab, tapi tidak tau harus memulai dari mana, kapan, dan dorongan kuat nya belum ada. Tapi kan itu semua masih nanti nanti.. sementara, nanti tuh kapan?
Belom lagi mikirin nanti kalo berhijab kerjaan berkurang.. dan masih banyak lagi deh pertimbangan duniawi

Apakah pada saatnya, emang aku udah benar-benar siap?

Atau aku akan menemukan alasan lainnya untuk sekedar menunda lagi?

Worst case nya, apakah umurku akan cukup sampai ke titik tersebut?

Pada saat yang bersamaan, aku mendengar teman-teman (yang kelihatannya jauh lebih bandel) sekarang ibadahnya sudah lebih baik, bahkan sebagian teman perempuan sudah berhijab.

Aku merasa kesusul, “kok dia bisa begitu ya, harusnya kan gue yang bisa sampai situ duluan”

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mendalami ilmu agama, dengan lebih sering datang ke majelis ilmu, dan alhamdulilah dipertemukan dengan teman-teman yang satu frekwensi (termasuk komunitas Terang Jakarta) Qadarullah, hal yang paling memantapkan hati, justru berasal dari anak saya, yang baru berusia 8 tahun..

Dia minta untuk berhijab ke sekolah, karena menurutnya berhijab itu lebih rapih dan sopan, padahal, sekolahnya tidak mewajibkan untuk berhijab.

Tentunya aku senang sekali, siapa yang ga seneng punya anak umur segitu, tapi sudah bisa membuat keputusan hebat.

Kemudian, selang beberapa bulan, dia melepas hijabnya..

Lalu aku tanya sebabnya, dia bilang:

“aku ga mau, ibu di ketawain temen-temen aku, soalnya temen-temen ku bilang.. ‘kamu kok aneh sih? biasanya kan ibunya pake hijab, anaknya nggak.. tapi kalo kamu anaknya pake hijab, ibunya nggak!’ ”

WAKWAAWUAW!!

Masya Allah, disitu aku langsung memantapkan hati untuk berhijab..

Dan aku semakin yakin kalau semua orang pasti akan diberikan sinyal hidayah oleh Allah, dengan cara yang berbeda-beda, tetapi.. kembali lagi kepada kita, apakah kita mau merespon sinyal itu dengan cepat? Atau kita akan terus menunda sampai waktu kita habis?

Serius deh… jangan terlena dengan keadaan “baik-baik saja” ,karena ilmu itu setiap hari harus bertambah, hati-hati terjebak di comfort zone, lalu diam di tempat merasa tidak perlu berkembang lagi.

Jangan pernah putus asa memohon rahmat dan hidayah Allah, karena hidayah itu harus di jemput, bukan ditunggu.